PERCOBAAN ATRAKTAN METIL EUGENOL

Disusun oleh:

  1. Fitri Fatma Wardani                      A34080005
  2. Agus Wahid Salim                        A34080012
  3. Imam Khoiri                                  A34080034
  4. Musfirotun Oktafani                     A34080061
  5. Gusto Simatupang                                    A34080085

Dosen Pembimbing:

Dr.Ir. Nina Maryana, M.Sc.

Dr.Ir. I Wayan Winasa, M.Sc.

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Lalat buah merupakan hama yang banyak menyerang buah-buahan dan sayuran seperti mangga, jambu biji, belimbing, melon, nangka, jambu air, tomat, cabai merah, dan pare. Hama ini terdapat hampir di seluruh kawasan Asia-Pasifik, dan diketahui dapat menyerang lebih dari 26  jenis buah-buahan dan sayuran. Kerugian akibat serangan lalat buah cukup besar. Akibat serangan hama ini menyebabkan rendahnya produksi dan mutu buah. Hama ini juga dapat menjadi penghambat perdagangan (Trade barrier) antar Negara, karena apabila pada komoditas ekspor suatu produk terdapat telur lalat buah, maka produk tersebut akan ditolak. Hal ini pernah terjadi terhadap Indonesia pada komoditas paprika yang akan diekspor ke Taiwan.

Lalat buah merusak buah dengan cara memasukkan telur pada buah. Setelah 3 hari, larva akan menetas dan akan memakan daging buah sehingga buah menjadi busuk. Akibatnya buah jatuh dan tidak bisa dipanen. Bagian luar buah biasanya terlihat mulus, tetapi bagian dalamnya sudah busuk. Larva lalat buah berada dalam buah selam 23 sampai 16 hati kemudian meloncat ke tanah dan berubah menjadi pupa. Setelah 3 hari, pupa berubah menjadi imago yang siap kawin dan dapat meletakkan telur di buah yang segar lagi. (http://www.pustaka-deptan.go.id/publikasi/wr261044.pdf)

Ada beberapa cara pengendalian lalat buah yang dianjurkan, diantaranya yaitu : pembungkusan buah, pengasapan, sanitasi kebun, dengan perangkap/atraktan, dan penggunaan pestisida kimia. Namun dalam pelaksanaannya masih sulit, belum sepenuhnya dilakukan petani kita.

Penggunaan pestisida kimia sering menjadi tumpuan dalam pengendalian lalat buah, namun dirasa kurang bijaksana karena menimbulkan dampak negatif antara lain terhadap kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Oleh karena itu perlu dicari cara pengendalian yang lebih aman dan akrab lingkungan diantaranya dengan menggunakan pestisida nabati. Salah satu  jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati untuk pengendalian lalat buah adalah tanaman selasih (Ocimum sp.).

Tujuan

Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah:

  1. Untuk mengetahui keefektifan metil eugenol dalam mengendalikan lalat buah pada belimbing.
  2. Untuk mengetahui jenis lalat buah yang sering mengganggu belimbing.

BAHAN DAN METODE

Bahan dan Alat

Pada praktikum ini, bahan yang digunakan adalah Metil eugenol dan Insektisida. Sedangkan, alat-alat yang digunakan adalah suntikan kecil, kapas sebagai bahan untuk meletakan metil eugenol dan insektisida, kertas label, alat perangkap yang terbuat dari wadah plastic berlubang, kawat penggantung, dan pertanaman buah belimbing.

Metode

Wadah plastik diberi lubang pada sisi atas dan bawahnya. Padda bagian samping wadah plastik diberi kawat untuk menempelkan kapas dan kawat penggantung. Pada saat pemakaian, wadah plastic dimiringkan sehinga lubang terletak pada bagian samping kiri dan kanan. Metil eugenol diteteskan dengan menggunakan jarum suntik sebanyak 2 ml. Pada kedua jenis atraktan kemudian diteteskan cairan insektisida 2 ml. setiap grup melakukan pemerangkapan dengan 2 alat perangkap yang berisi metil eugenol.

Alat perangkap dibawa ke pertanaman dan digantungkan pada tangkai daun. Alat perangkap dibiarkan di pertanaman selama satu minggu. Setelah satu minggu, alat perangkap diambil dari pertanaman. Lalat buah yang terperangakap diambil dan bungkus dengan kertas tissue dan dimasukkan ke dalam plastik. Lalat buah kemudian diidentifikasi dan dihitung untuk setiap perangkap. Alat perangkap yang telah selesai digunakan, kemudian dibersihkan dan dikembalikan kepada asisten atau laboran.

HASIL DAN PEMBAHSAN

  1. A. Hasil Pengamatan

Tabel Jumlah Lalat Buah yang Tertangkap di Tanaman Belimbing

Hari Serangga yang Tertangkap Jumlah Jenis Kelamin
1 Perangkap 1 Bactrocera dorsalis 9 Jantan
Perangkap 2 Bactrocera dorsalis 12 Jantan
Hymenoptera:Formicidae 100
2 Perangkap 1 Bactrocera dorsalis 8 Jantan
Perangkap 2 Bactrocera dorsalis 6 Jantan
Hymenoptera:Formicidae 65
3 Perangkap 1 Bactrocera dorsalis 8 Jantan
Perangkap 2 Bactrocera dorsalis 7 Jantan
Hymenoptera:Formicidae 54
4 Perangkap 1 Bactrocera dorsalis 7 Jantan
Perangkap 2 Bactrocera dorsalis 7 Jantan
5 Perangkap 1 Bactrocera dorsalis 6 Jantan
Perangkap 2 Bactrocera dorsalis 5 Jantan
6 Perangkap 1 Bactrocera dorsalis 6 Jantan
Perangkap 2 Bactrocera dorsalis 4 Jantan
7 Perangkap 1 Bactrocera dorsalis 3 Jantan
Perangkap 2 Bactrocera dorsalis 4 Jantan

Grafik Lalat Buah yang Tertangkap

Gambar Bactrocera dorsalis

Sumber: http://www.agspsrv34.agric.wa.gov.au.

Pembahasan

Lalat buah adalah salah satu hama yamg sangat merugikan pada tanaman buah-buahan. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, spesies yang didapat pada pertanaman buah belimbing adalah Bactrocera dorsalis. Bactrocera dorsalis yang tertangkap merupakan Bactrocera dorsalis yang berjenis kelamin jantan. Hal ini terjadi karena atraktan yang ditempelkan pada kapas mengandung feromon lalat betina. Feromon lalat betina tersebut merupakan senyawa kimia metil eugenol.

Grafik menunjukkan bahwa hari semakin hari jumlah Bactrocera dorsalis yang tertangkap semakin menurun. Hal ini dikarenakan bahwa daya pancar dan daya pikat dari zat atraktan tersebut semakin lama semakin menguap, sehingga mengakibatkan kurang tertariknya jantan untuk datang.

Jumlah Bactrocera dorsalis yang tertangkap hanya sedikit, karena konsentrasi insektisida yang diinjeksikan ke kapas kurang. Sehingga Bactrocera dorsalis yang sudah masuk perangkap tidak langsung mati, tapi bisa meloloskan diri dari perangkap.

Metil eugenol adalah suatu senyawa yang memiliki rumus kimia C12H24O2. Metil eugenol beraroma wangi merupakan zat yang dibutuhkan oleh lalat buah jantan. Di dalam tubuh lalat buah jantan metil eugenol akan diproses menjadi zat pemikat lalat buah batina dalam proses kopulasi. Lalat buah jantan berusaha mencari aroma atraktan metil eugenol, sehingga dapat digunakan untuk menarik kehadirannya. Radius aroma atraktan dapat mencapai 100 sampai 200 m, jika dibantu angin jangkauan dapat mencapai 3 km. Apabila lalat jantan dapat dikurangi secara periodik dengan menggunakan atraktan ini dapat menekan tingkat perkawinan dan populasinya.

Penggunan bahan kimia attraktan metil eugenol merupakan salah satu pengendalian lalat buah yang menggunakan bahan nabati. Metil eugenol ini biasanya diperoleh dari daun selasih dan daun cemara hantu. Metil eugenol ini didapatkan dengan cara penyulingan secara bertingkat. Penyulingan daun selasih dilakukan selama 4 jam dan pada daun cemara hantu selama 6 jam.

Metil eugenol merupakan bahan kimia yang cukup efektif dalam mengendalikan Bactrocera dorsalis.  Metil eugenol hanya menarik serangga jantan saja. Dengan tertariknya serangga jantan, telur-telur yang diletakkan betina tidak terjadi pembuahan, sehingga intensitas kerusakan akibat larva menurun bahkan terhindar dari serangan lalat buah.

Kelemahan dari metil eugenol adalah tidak bertahan lama karena mudah menguap. Hal ini terbukti dengan jumlah lalat buah yang tertangkap semakin lama semakin berkurang.  Atraktan ini tidak berpengaruh terhadap lalat betina karena atraktan ini hanya berpengaruh terhadap lalat jantan saja sehingga atraktan ini tidak dapat digunakan untuk mengendalikan lalat betina.

KESIMPULAN

Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa pengendalian populasi lalat buah dapat digunakan atraktan metil eugenol. Namun atraktan ini hanya dapat digunakan untuk memikat lalat buah jantan saja sehingga tidak dapat digunakan untuk menarik lalat buah betina. Metil eugenol ini memiliki kelemhan dalam aplikasinya karena mudah menguap sehingga jumlah serangga jantan yang tertangkap menurun dari hari ke hari.

DAFTAR PUSTAKA

Kusnaedi. 1999. Pengendalian Hama tanpa Pestisida. Jakarta: Penebar Swadaya. [9 Mei 2010]

Southwood.T.R.E. 1978. Ecological methods. With particular reference to the study of insect populations. The ELBS and Chap-men and Hall. London. [9 Mei 2010]

http://www.pustaka-deptan.go.id/publikasi/wr261044.pdf [9 Mei 2010]

http://www.agspsrv34.agric.wa.gov.au. [9 Mei 2010]

About these ads